INI cerita tentang kawan saya. Ia mempunyai anak kembar perempuan umur 11 tahun, Pritha dan Prithi. Meski mereka kembar, tetapi perilaku mereka berbeda. Pritha sangat rajin belajar dan patuh perintah orang tua. Sedangkan Prithi tidak demikian. Jika Ayahnya minta melakukan sesuatu, Prithi selalu membantah dan malas-malasan. Prithi juga menunjukkan sikap tidak bertanggungjawab terhadap tugas-tugas sekolah. Ia malas belajar dan mengerjakan tugas rumah dari gurunya. Ia sepertinya tidak punya motivasi untuk meraih rangking kelas.
Selidik-punya selidik, ternyata kawan saya tadi –sebagaimana diakuinya-- pernah melakukan kesalahan besar dalam hidup keluarganya. Suatu ketika, perusahaan tempat kawan saya bekerja, menugaskan kawan saya ke luar pulau dalam waktu lama. Pritha yang diajak, sementara Prithi dititipkan ke neneknya di Jawa. Alasannya sepele, kondisi waktu itu tidak memungkinkan.
Kini, meskipun mereka sudah berkecukupan dan tinggal bersama lagi di Jakarta, namun ada yang terluka di dalam keluarga tersebut. Prithi merasa bahwa dia bukanlah pilihan orang tuanya, karena yang dipilih adalah Pritha. Bisa jadi ia mewujudkannya dengan perilakunya.
BANYAK orang mengira, anak kembar pasti sifat, harapan, kepandaian, dan lain-lain pasti sama. Dalam kasus di atas, kawan saya rupanya tercekoki dengan persepsi tradisional yang keliru, bahwa anak kembar harus dipisah satu sama lainnya. Pemahaman ini membuat kawan saya (dan juga orang tua kembar yang lain) mengesampingkan perasaan satu anak kembarnya karena menganggap mereka memiliki persepsi sama dengan anak kembarnya yang lain.
Pendapat ini tidak benar. Meski kembar, tetapi mereka berdua tetap merupakan individu yang mempunyai sifat, harapan, keinginan, kepandaian, dan kepribadian yang berbeda. Hal itu menuntut perlakuan berbeda pula. Komunikasi Prithi yang baru saja berkumpul kembali dengan orang tuanya tentu tidak sepenuh komunikasi Pritha dengan kedua orang tuanya. Komunikasi yang terjalin antara keluarga itu dengan Prithi masih dalam kategori proses belajar untuk saling mengenal satu sama lain. Berbeda dengan Pritha yang sejak lahir sampai sekarang tidak berpisah dengan orangtuanya. Semua karakter yang dimilikinya tentu saja dikenali kedua orang tuanya.
Mungkin Prithi sedih dan kecewa karena baru berkumpul dengan orang tuanya kemudian. Dia melihat Pritha lebih beruntung karena sejak lahir tidak harus berpisah dengan orangtuanya. Dapat juga muncul perasaan disingkirkan karena kehadirannya dianggap merepotkan sehingga harus dititipkan kepada neneknya, sekalipun mungkin sang nenek sangat memanjakannya.
Dibutuhkan komunikasi yang harmonis antara orang tuanya dengan Prithi agar harapan, keinginan dan masalahnya dapat ditampung dengan baik sehingga ditemukan solusi terbaik. Perlu kesabaran ekstra agar Prithi tidak merasa asing dengan orang tuanya, saudara dan keluarga utuh yang belakangan ini dikenalnya lebih intens.
Ketika sekarang Prithi kumpul bersama keluarga utuhnya, bisa juga dia merasa dan berpikir mengapa masih dibedakan dengan Pritha? Perasaan lain mungkin juga muncul, mengapa hanya Pritha yang perhatikan dan dipuji orang tuanya? Perasaan-perasaan seperti itu yang dapat membuat Prithi merasa mendapat perlakuan lain dari orang yang sama-sama melahirkan mereka. Jadi, Prithi merasa tidak mendapatkan kasih sayang seperti saudara kembarnya.
Sepertinya sepele, namun itulah noktah penyakit yang menyerang keluarga kawan saya. Kunci penyembuhannya terletak pada kawan saya dalam merekonstruksi kembali keutuhan komunikasi terhadap kedua anak kembarnya dan anak-anak yang lainnya. Auto-healing, penyembuhan sendiri yang tentu saja harus dilakukan oleh keluarga kawan saya. Apapun metodanya bisa dipakai, kunci utamanya adalah memperbaiki
komunikasi. Komunikasi yang berkesinambungan di dalam keluarga memang perlu dikembangkan.
Bagaimana pun mengasuh anak kembar memang repot. Yang paling penting orang tua tidak membanding-bandingkan kemampuan masing-masing. Juga tidak menuntut kemampuan atau keberhasilan yang sama pada mereka, karena mereka merupakan individu yang berbeda. Sebaiknya orang tua bersabar mengenal dan menghadapi sikap anak kembarnya meskipun dianggap sangat menjengkelkan. Jangan sampai anak merasa semakin frustasi dengan keterasingannya dalam keluarganya sendiri.
Jakarta, 21 Februari 21/02/2008
Jumat, 22 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar